Rabu, 06 Mei 2009

Tanaman Genjer

BAB I
DESKRIPSI MORFOLOGI TANAMAN GENJER

Genjer (Limocharis fava) adalah sejenis tumbuhan rawa yang banyak dijumpai di daerah pesawahan atau perairan yang dangkal. Biasanya ditemukan bersama-sama dengan eceng gondok. Tanaman genjer ini tumbuh di permukaan perairan atau akarnya masuk ke dalam lumpur. Tumbuhan ini merupakan tumbuhan tahunan; rimpang tebal dan tegak, tinggi tumbuhan bisa mencapai setengah meter,

1.1. Deskripsi Daun
Daun merupakan salah satu bagian tumbuhan yang penting, dan pada umumnya setiap tumbuhan mempunyai sejumlah besar daun. Daun ini hanya terdapat pada batang saja dan tidak pernah terdapat pada bagian lain dari tumbuhan. Bagian batang dimana daun itu melekat disebut dengan buku-buku (nodus).
Daun biasanya tipis, melebar, kaya akan suatu zat warna hijau yang dinamakan klorofil, oleh karena itu daun biasanya kebanyakan berwarna hijau, dan dari ciri umum itu memang sudah selaras dengan fungsi daun bagi tumbuh-tumbuhan, yaitu sebagai:
1. Pengambilan zat-zat makanan (resorbsi). Terutama yang berupa zat gas (CO2)
2. Pengolahan zat-zat makanan (asimilasi)
3. Penguapan air (transpirasi)
4. Pernafasan (respirasi)
Daun memiliki beberapa bagian, seperti;
1. Upih daun atau pelepah daun (vagina)
2. Tangkai daun (petiolus)
3. Helaian daun (lamina)
Daun yang mempunyai bagian-bagian tersebut termasuk pada kategori daun yang lengkap.
Tumbuhan yang mempunyai daun lengkap tidak begitu banyak jenisnya. Kekan tumbuhan mempunyai daun yang kehilangan salah satu diantara daun lengkap itu, dan daun yang seperti itu dinamakan dengan daun tidak lengkap.
Tanaman genjer (Limocharis flava) merupakan tanaman yang mempunyai daun yang termasuk kategori daun lengkap. Karena daun genjer mempunyai ketiga bagian-bagian daun itu, seperti yang tercantum pada gambar dibawah ini;



Jadi berdasarkan kelengkapan daun, tanaman genjer ini termasuk pada daun lengkap. Pada tanaman ini tidak ditemukan daun tambahan, dan jumlah helaian daun tanaman ini termasuk pada kategori daun tunggal (folium simplex).
Berdasarkan susunan tulang daun, tanaman genjer memiliki tulang daun yang Melengkung yaitu daun yang susunan tulang daunnya melengkung. Bagian daun terlebar pada genjer terletak pada bagian tengah helaian daun. Ujung distal helai daun (apex) meruncing (acuminatus).

1.2. Deskripsi Batang dan Akar
• Batang
Batang merupakan bagian tubuh tumbuhan yang sangat penting, dan mengingat peranan atau kedudukan batang bagi tubuh tumbuhan dapat disamakan dengan subu tubuh tumbuhan. Sebagai bagian tubuh tumbuhan, batang mempunyai tugas untuk:
1. Mendukung bagian-bagian tumbuhan yang ada diatas tanah.
2. Dengan percabangannya memperluas bidang asimilasi, dan menempatkan bagian-bagian tumbuhandi dalam ruang sedemikian rupa, hingga dari segi kepentingan tumbuhan bagian-bagian tadi terdapat dalam posisi yang paling menguntungkan.
3. Jalan pengangkutan air dan zat-zat makanan dari bawah ke atas dan jalan pengangkutan hasil-hasil asimilasi dari atas ke bawah.
4. Menjadi tempat penimbunan zat-zat makanan cadangan.
Berdasarkan ada tidaknya batang, tumbuhan genjer ini termasuk pada tumbuhan berbatang jelas, karena batangnya terlihat dengan jelas. Berbeda dengan acaulis, selain tidak terlihat batangnya biasanya acaulis letak daun-daunnya sangat merapat.
Berdasarkan sifat batang genjer termasuk pada batang basah (herba), karena batang ini biasanya mengandung air, tidak berkayu dan berwarna hijau. Batang tanaman genjer berbentuk bundar (globosus). Berdasarkan arah batang di atas tanah genjer memiiki batang yang tegak (erectus) dengan berarah tegak lurus ke atas.

• Akar
Akar adalah bagian pokok yang nomor tiga (disamping batang dan daun) bagi tumbuhan yang tubuhnya telah merupakan kormus. Bagi tumbuhan, akar mempunyai tugas untuk:
1. Memperkuat berdirinya tumbuhan
2. Untuk menyerap air dan zat-zat makanan yang terlarut di dalam air tadi dari dalam tanah.
3. Mengangkut air dan zat-zat makanan tadi ke tempat-tempat pada tubuh tumbuhan yang memerlukan.
4. Kadang-kadang sebagai tempat untuk penimbunan makanan

Tumbuhan genjer ini biasa hidup di air, sawah ataupun rawa-rawa. Apabila dilihat tanaman ini mempunyai akar yang serabut. Akar lembaga dari tanaman ini dalam perkembangan selanjutnya mati atau kemudian disusul oleh sejumlah akar yang kurang lebih sama besar dan semuanya keluar dari pangkal batang. Akar-akar ini karena bukan berasal dari calon akar yang asli yang dinamakan akar liar, bentuknya seperti serabut, oleh karena itu dinamakan akar serabut (radix adventicia)

1.3. Deskripsi Bunga
Bunga merupakan alat untuk mempertahankan generasi dari suatu tumbuhan, dan biasa disebut dengan alat perkembangbiakan (organum reproductivum).
Genjer memiliki bunga yang mempunyai sifat seperti daun. Berdasarkan kelengkapan bunga, genjer memiliki bunga yang lengkap, karena di situ semua daun bunga seperti kelopak, mahkota, benang sari dan putik terdapat pada bunga genjer.

Pada suatu tumbuhan ada kalanya hanya terdapat satu bunga saja, tetapi umumnya pada suatu tumbuhan dapat ditemukan banyak bunga. Tumbuhan yang hanya menghasilkan satu bunga saja dinamakan tumbuhan berbunga tunggal (plantauniflora) sedang lainnya tumbuhan berbunga banyak (planta multiflora).
Jika suatu tumbuhan hanya mempunyai satu bunga saja, biasanya bunga itu terdapat pada ujung batang, jika bunganya banyak, sebagian bunga-bunga tadi terdapat pada ketiak-ketiak daun dan sebagian pada ujung batang atau cabang-cabang. Berdasarkan pada letaknya, bunga pada tanaman genjer ini terdapat di ketiak daun (flos lateralis atau flos axillaries).

1.4. Deskripsi Buah dan Biji
Jika penyerbukan pada bunga telah terjadi dan kemudian diikuti pula oleh pembuahan, maka bakal buah akan tumbuh menjadi buah, dan bakal biji yang terdapat di dalam bakal buah akan tumbuh menjadi biji. Buahyang berasal hanya dari bakal buah disebur dengan buah sejati, dan jika terdapat jaringan tambahan lain yang menyusun buah maka disebut buah semu. Pada tumbuhan genjer buah yang dimiliki tidak akan mengalami perkembangan dengan berdaging, makanya buah dari tanaman genjer ini termasuk pada buah semu.
Biji berkembang dari bakal biji yang dibuahi. Biji merupakan alat perkembangbiakan yang utama, karena pada biji mengandung calom tumbuhan baru (tembaga).

BAB II
NAMA DAN DESKRIPSI UMUM TANAMAN GENJER

2.1. Nama dan Klasifikasi Ilmiah Tanaman Genjer
Klasifikasi Tanaman Genjer
Kingdom : Plantae (tumbuhan)
Subkingdom : Tracheobionta (tumbuhan berpembuluh)
Divisi : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas : Liliopsida (Berkeping satu/monokotil)
Ordo : Alismatales
Famili : Limnocharitaceae
Genus : Limnocharis
Species : Limnocharis flava

2.2. Deskripsi Umum Tanaman Genjer
Sekarang ini, Genjer merupakan tanaman yang hampir dilupakan oleh masyarakat Indonesia. Zaman dahulu ketika penjajah masih singgah di Negeri ini, tanaman genjer sangat terdengar akrab sekali dengan masyarakat bahkan waktu itu daun tanaman genjer ini sempat dijadikan bahan makanan untuk dikonsumsi manusia, saking tidak adanya makanan karena masyarakat waktu itu masih terbelenggu oleh penjajahan.

2.2.1. Lagu Genjer-genjer
Bahkan pada tahun 1960-an muncul lagu genjer-genjer yang di ciptakan oleh Muhammad Arief, pada waktu itu lagu ini sempat booming di Indonesia, tetapi pada era orde baru lagu ini lenyap seiring dengan pembubaran PKI yang dilakukan pada zaman orde baru itu, karena selain diidentikan dengan orang miskin tanaman ini pula kerap diidentikkan sebagai lagunya orang Partai Komunis Indonesia (PKI). Lagu genjer-genjer ini dikenal juga sebuah lagu yang berjudul “Turi-turi Putih”. Lagu yang terakhir ini dianggap sebagai lagu untuk orang-orang Partai Nasional Indonesia (PNI).
Lirik lagu Genjer-genjer berkisah tentang tumbuhan genjer, tumbuhan sawah yang memiliki kedekatan dengan kehidupan petani dan masyarakat kecil, menjadikannya mudah diterima oleh masyarakat luas. Boleh jadi mereka menyukai lagu ini karena liriknya mengisyaratkan keberpihakan pada rakyat kecil. Lirik lagu Genjer-genjer ditulis dalam bahasa Jawa, meski beberapa sumber menyebutkan adanya perbedaan lirik di daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur akibat digunakannya logat bahasa Jawa yang berbeda.
Pun lagu Genjer-genjer yang dinilai mengandung ajaran komunis dalam lirik-liriknya, dan juga dianggap sebagai lagu pengiring upacara tak bermoral, tak lagi didendangkan. Tudingan tersebut juga diperkuat oleh penemuan “dokumen” berupa buku kumpulan lagu-lagu paduan suara yang berisi lagu-lagu rakyat dari berbagai daerah, salah satunya lagu Genjer-genjer, di lokasi kejadian. Buku yang diterbitkan oleh CC PKI dan dipergunakan untuk panduan paduan suara, dipandang sebagai bagian dari gerakan politik yang dilakukan PKI untuk melakukan perebutan kekuasaan. Apalagi bagian lirik yang berbunyi “..neng kledokan pating keleler” (..di lahan berhamparan), seringkali diartikan sebagai simbolisasi tubuh-tubuh para jendral yang berhamparan meregang nyawa. Sejak saat itu, Genjer-genjer yang pernah demikian akrab ditelinga berbagai kalangan masyarakat dipandang sebagai lagu yang dilekati dosa politik dan “terlarang”
Salah satu versi lirik yang banyak dikenal seperti tertulis dibawah ini:

Gendjer-gendjer neng ledokan pating keleler
Gendjer-gendjer neng ledokan pating keleler
Emake thole teka-teka mbubuti gendjer
Emake thole teka-teka mbubuti gendjer
Oleh satenong mungkur sedot sing tolah-tolih
Gendjer-gendjer saiki wis digawa mulih

Gendjer-gendjer esuk-esuk digawa nang pasar
Gendjer-gendjer esuk-esuk digawa nang pasar
didjejer-djejer diunting pada didasar
didjejer-djejer diunting pada didasar
emake djebeng tuku gendjer wadahi etas
gendjer-gendjer saiki arep diolah

Gendjer-gendjer mlebu kendil wedange umob
Gendjer-gendjer mlebu kendil wedange umob
setengah mateng dientas digawe iwak
setengah mateng dientas digawe iwak
sega sa piring sambel penjel ndok ngamben
gendjer-gendjer dipangan musuhe sega

(Gendjer-gendjer ada di lahan berhamparan
Gendjer-gendjer ada di lahan berhamparan
Ibunya anak-anak datang mencabuti gendjer
ibunya anak-anak datang mencabuti gendjer
Dapat sebakul dipilih yang muda-muda
Gendjer-gendjer sekarang sudah dibawa pulang

Gendjer-gendjer pagi-pagi dibawa ke pasar
Gendjer-gendjer pagi-pagi dibawa ke pasar
Ditata berjajar diikat dijajakan
Ditata berjajar diikat dijajakan
Emaknya jebeng beli genjer dimasukkan dalam tas
Gendjer-gendjer sekarang akan dimasak

Gendjer-gendjer masuk belanga airnya masak
Gendjer-gendjer masuk belanga airnya masak
setengah matang ditiriskan dijadikan lauk
setengah matang ditiriskan dijadikan lauk
nasi sepiring sambal pecel duduk di ambin
Gendjer-gendjer dimakan musuhnya nasi)

Lagu ini menggambarkan potret masyarakat Indonesia ketika di duduki oleh penjajahan Jepang.
Jadi sekarang ini tanaman genjer sering di identikkan sebagai makanan orang miskin, kadang orang kota segan untuk memakan tanaman ini. Kalau kita lihat kandungan gizi dari tanaman ini, tidak terlalu miskin gizi. Tanaman ini kaya akan serat

2.2.2. Awal Mula Munculnya Lagu Genjer-genjer
Sebelum pendudukan tentara Jepang pada tahun 1942, wilayah Kabupaten Banyuwangi termasuk wilayah yang secara ekonomi tak kekurangan. Apalagi ditunjang dengan kondisi alamnya yang subur. Namun saat pendudukan Jepang di Hindia Belanda pada tahun 1942, kondisi Banyuwangi sebagai wilayah yang surplus makanan berubah sebaliknya. Karena begitu kurangnya bahan makanan, sampai-sampai masyarakat harus mengolah daun genjer (limnocharis flava) di sungai yang sebelumnya oleh masyarakat dianggap sebagai tanaman pengganggu.
Situasi sosial semacam itulah yang menjadi inspirasi bagi Muhammad Arief, seorang seniman Banyuwangi kala itu untuk menciptakan lagu genjer-genjer. Digambar oleh M Arif bahwa akibat kolonialisasi, masyarakat Banyuwangi hidup dalam kondisi kemiskinan yang luar biasa sehingga harus makan daum genjer. Kisah itu tampak dalam sebait lagu genjer-genjer di atas.
Seiring dengan perkembangan waktu dan Indonesia mencapai kemerdekaan, Muhammad Arief sebagai pencipta lagu genjer-genjer bergabung dengan Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) yang memiliki hubungan ideologis dengan Partai Komunis Indonesia. Maka lagu ini pun segera menjadi lagu popular pada masa itu, bahkan dalam pernyataannya kepada penulis, Haji Andang CY seniman sekaligus teman akrab M Arief di Lekra serta Hasnan Singodimayan, sesepuh seniman Banyuwangi menyebutkan bahwa lagu genjer-genjer menjadi lagu populer di era tahun 1960-an, di mana Bing Slamet dan Lilis Suryani penyanyi beken waktu itu juga gemar menyanyikannya dan sempat masuk piringan hitam.
Kedekatan lagu genjer-genjer dengan tokoh-tokoh Lekra dan komunis memang tak dapat dipungkiri. Bahkan dalam sebuah perjalanan menuju Denpasar, Bali pada tahun 1962, Njoto seorang seniman Lekra dan juga tokoh PKI sangat kesengsem dengan lagu genjer-genjer. Waktu itu Njoto memang singgah di Banyuwangi dan oleh seniman Lekra diberikan suguhan lagu genjer-genjer. Tatkala mendengarkan lagu genjer-genjer itu, naluri musikalitas Njoto segera berbicara. Ia segera memprediksikan bahwa lagu genjer-genjer akan segera meluas dan menjadi lagu nasional. Ucapan Njoto segera menjadi kenyataan, tatkala lagu genjer-genjer menjadi lagu hits yang berulang kali ditayangkan oleh TVRI dan diputar di RRI

2.2.3. Kandungan Tanaman Genjer
Mempunyai kandungan serat yang tinggi, sehingga ketika dimakan genjer memiliki rasa yang enak. Genjer kaya akan unsur gizi. Setiap 100 g genjer mengandung energi 39 kkal, protein 1.7 g, karbohidrat 7.7 g, kalsium 62 mg, fosfor 33 mg dan zat besi 2.1 mg. Sayuran ini juga kaya akan serat yang baik untuk menjaga saluran sistem pencernaan. Jika rajin mengkonsumsi sayuran ini, dipercaya kanker kolon dan sembelit akan jauh. Tapi dati tanaman genjer ini tidak mempunyai kandungan yang begitu mencolok, tidak banyak orang yang mencari-cari tanaman genjer

2.2.4. Manfaat Tanaman Genjer
Tanaman genjer sering sekali orang menganggapnya sebagai tanaman pengganggu, dan banyak dikesampingkan oleh orang. Bahkan banyak anggapan bahwa tanaman ini hanya dikonsumsi oleh masyarakat rendah. Alias makanan orang susah. Tanaman ini sering tumbuh di daerah rawa-rawa ataupun di daerah pesawahan. Anggapan orang itu tidak harus semuanya dipercayai, sebagai seorang biologiwan kita harus lebih menelitinya lagi benarkah tanaman ini demikian?
Karena tanaman ini kaya akan serat, maka genjer ini baik dikonsumsi oleh orang yang susah berak, sehabis makan genjer sebaiknya kita makan Pepaya masak, sebab Pepaya termasuk juga bahan yang berguna memperlancar berak, karena kalau kita mencampur keduanya biasanya buang air besar kita menjadi lancar dan tidak perlu lagi makan obat untuk memperlancar BAB kita.


2.2.5. Fobia Tidak Logis Terhadap Genjer-genjer
Pelarangan lagu Genjer-genjer sebenarnya sangat tidak beralasan, padahal jika disadari Genjer-genjer juga salah satu produk budaya. Tetapi karena Politik Pukul Rata yang diterapkan oleh pemerintahan orde baru, maka seluruh produk yang dilahirkan atau terkait dengan orang-orang komunis haram hukumnya dan patut dihabisi.
Beberapa stereotype lagu Genjer-genjer menjadi lagu komunis disebabkan oleh beberapa factor. Pertama, seperti yang diketahui, sejarah lagu Genjer-genjer berkembang dan dikreasikan oleh kalangan komunis di masanya, walaupun masyarakat luas yang tidak komunis pun sangat menyukai lagu tersebut. Dan factor lanjutannya adalah, ketika peristiwa G 30 S tahun 1965 meledak, Harian KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia) menjadikan lagu Genjer-genjer sebagai media kritik, hal ini dilakukan dengan memplesetkan lagu Genjer-genjer menjadi Jendral-jendral. Seperti yang dikutip dari catatan pribadi Hasan Singodimayan, seniman HSBI, menuliskan lagu plesetan Jendral-jendral tersebut.


Jendral Jendral Nyang ibukota pating keleler
Emake Gerwani, teko teko nyuliki jendral
Oleh sak truk, mungkir sedot sing toleh-toleh
Jendral Jendral saiki wes dicekeli

Jendral Jendral isuk-isuk pada disiksa
Dijejer ditaleni dan dipelosoro
Emake Gerwani, teko kabeh milu ngersoyo
Jendral Jendral maju terus dipateni

Mungkin karena plesetan lirik tersebutlah, yang menjadi satu-satunya alasan tunggal yang memperkuat Orde Baru untuk menghancurkan lagu tersebut.
Semoga pada perkembangan bangsa Indonesia kedepan tidak ada lagi suatu produk budaya yang diharamkan oleh pemerintah. Karena produk budaya adalah produk budaya, tidak bisa dikaitkan dengan perkembangan suatu ideology atau pergerakan terlarang seperti yang terjadi pada PKI yang diharamkan oleh pemerintah orde baru pada saat itu.

DAFTAR PUSTAKA

Forum.detik.com/archive/index.php/t-27695.html. Diakses tanggal 1 Mei 2009 pukul 20.00
Plantamor. Diakses tanggal 1 Mei 2009 pukul 20.10
Sendaljepit.wordpress.com/2006/08/08/genjer-makanan-rakyat-yang-dibungkam-politik/
Tjitrosoepomo, Gembong. 1985. Morfologi Tumbuhan. Yogyakarta; Gadjah Mada University Press.
Tim Morfologi Tumbuhan. 2009. Pedoman Praktikum Morfologi Tumbuhan. Yogyakarta; Laboratorium Biologi UIN Sunan Kalijaga.
Wikipedia indonesia. Diakses tanggal 1 Mei 2009 pukul 20.10
www.sinarharapan.co.id/hiburan/budaya/2005/0423/bud2.html

LAMPIRAN

Gambar

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar